9 Cara Membantu Anak Belajar Membaca

 

Gerakan Membaca – Anak yang sudah dapat membaca di umur dini kadang kala diasosiasikan sebagai anak yang pintar, demikian pula sebaliknya. Asumsi ini tidak jarang menciptakan orang tua memaksa anak guna belajar menyimak sedini mungkin.

Asumsi ini diperkuat dengan norma sosial guna memasukkan anak ke lembaga prasekolah (pre-school) laksana PAUD maupun kumpulan bermain sedini mungkin, bahkan saat anak masih berusia di bawah 3 tahun alias batita. Tak jarang pula, lembaga prasekolah tersebut menyertakan ‘belajar membaca’ sebagai di antara kurikulumnya. Tujuannya, saat anak telah sampai pada umur sekolah dasar (7 tahun), anak sudah dapat membaca sampai-sampai tidak ketinggalan dengan teman-temannya yang lain.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Anak guna Belajar Membaca?
1. Tidak usah terburu-buru
Psikolog anak dari Universitas Indonesia, Ratih Zuhaqqi, M. Psi, menyangkal anggapan yang mengaku semakin dini anak dapat membaca, semakin tinggi tingkat intelejensianya. Menurutnya, tidak bakal ada bedanya antara anak yang dapat membaca pada usia 4 tahun, misalnya, dengan anak dapat membaca di umur 6 tahun. Anak yang sudah dapat membaca di umur 4 tahun tidak kemudian membuatnya tentu lebih pintar dari kawan-kawannya yang sebaya atau lebih tua dengan situasi belum dapat membaca.
“Anak belum mempunyai kesiapan mental, meski secara daya pikir, anak umur 3 tahun pun dapat untuk diajari menyimak dengan sarat semangat. Idealnya, kembalikan hak anak untuk situasi yang cocok dengan situasi psikis anak, yakni memang seharusnya membaca tersebut diajarkan di ruang belajar 1 SD (7 tahun),” kata Ratih.
Hal ini pun disetujui oleh pemerintah yang memang tidak mewajibkan dapat membaca sebagai kriteria guna masuk SD. Sedangkan butuh atau tidak anak mengikuti pekerjaan prasekolah dapat disesuaikan dengan situasi dan keadaan, laksana lingkungan lokasi anak tersebut tinggal, maupun terdapat atau tidaknya seseorang yang menyerahkan stimulasi.
Anak yang bermukim di lingkungan yang tidak sedikit anak kecil seusianya dan mereka dapat bermain tidak butuh ikut prasekolah seperti kumpulan bermain atau TK A. Sementara, lanjut Ratih, TK B agak urgen karena ingin memberi pengenalan dan persiapan untuk menginjak SD.
“Saat ini tidak sedikit ditemukan permasalahan efek dari anak diperkenalkan calistung (membaca, menulis, berhitung) pada umur dini, contohnya anak mogok sekolah, cepat merasa bosan, dan kurang fokus belajar,” kata Ratih.
Akademi Dokter Anak Amerika (AAP) pun menyatakan demikian. Berdasarkan keterangan dari jurnal yang mereka keluarkan, anak yang belajar menyimak sebelum umur 6 atau 7 tahun dapat mengalami kejemuan akademik, yaitu tidak motivasi belajar secara borongan di sekolah, terlebih andai proses belajar menyimak yang mereka lalui ialah hasil paksaan orang tua atau lingkungan.
Sebaliknya, anak yang belajar menyimak di umur yang tepat, yaitu sekitar 6 atau 7 tahun, dapat dengan cepat memburu ketertinggalannya dalam membaca, sangat lambat di ruang belajar 2 atau 3 SD. Anak dapat lebih cepat belajar membaca andai mendapat pendampingan yang tepat dari orang tua.
Kasus yang lebih fanatik pernah terjadi di Amerika Serikat pada 2011 lalu. Ketika itu, suatu organisasi kecil di Philadelphia mengaku bahwa proses belajar membaca dapat dimulai bahkan semenjak bayi. Caranya merupakan dengan menunjukkan flash card untuk bayi lantas orang tua menyinggung kata atau gambar yang terpampang di flash card tersebut. Organisasi tersebut bahkan mempublikasikan kitab terbitan mereka sendiri yang diberi judul ‘How to Teach Your Baby to Read’.
Ini pasti langsung memercik kontroversi di kalangan pemerhati anak. Mereka percaya bahwa bayi atau anak di bawah umur 3 tahun yang dapat melafalkan ucapan-ucapan tertentu adalahrespon terhadap gambar atau warna yang diperlihatkan dan bukan mencerminkan keterampilan mereka guna membaca.
2. Otak kanan
Pakar anak dari Amerika Serikat, Susan R. Johnson, MD., menyinggung bahwa anak kesatu kali belajar menyimak menurut huruf yang diasosiasikan untuk gambar tertentu. Misalnya, huruf ‘O’ yang berbentuk laksana donat atau huruf ‘L’ yang laksana buntut kucing, dan sebagainya.
Hal ini dikarenakan benak kanan anaklah yang berkembang terlebih dahulu di mana benak kanan memang bersangkutan dengan sifat visual anak, laksana menggambar, mewarnai, dan segala urusan yang bersangkutan dengan dunia seni. Otak kanan ini merasakan puncak pertumbuhan saat umur anak memasuki 4 sampai 7 tahun sampai-sampai usia tersebut dinilai sebagai masa-masa yang tepat untuk anak belajar membaca melewati permainan gambar atau warna.
Belajar menyimak dengan mengandalkan benak kanan ini menciptakan anak dapat melafalkan kata tertentu dengan konsentrasi pada huruf kesatu dan terakhir saja. Misal, anak akan dapat mengatakan ‘cenala’ sebenarnya kata yang dimaksudnya ialah ‘celana’.
Anak pun akan cepat lelah saat belajar menyimak dengan mengandalkan benak kanan ini sebab otak kanan memang dirancang bukan guna anak belajar membaca, namun lebih untuk mengingat bentuk-bentuk visual. Anak melulu akan dapat melafal ucapan-ucapan pendek sekitar belajar menyimak dengan benak kanan, jadi ibu mesti bersabar dalam mengajarkan si kecil menyimak di fase ini ya.
Sebetulnya, belajar membaca, menulis, dan berhitung adalahproses yang terjadi di benak kiri anak. Otak kiri adalahbagian benak yang memproses segala format logika, tergolong belajar matematika. Namun demikian, benak kiri baru berkembang saat anak umur 7 tahun, bahkan barangkali otak kiri anak laki-laki ingin berkembang lebih lambat, yaitu pada umur 11 tahun.
Ketika benak kiri anak telah berkembang, anak dapat belajar menyimak dengan lebih komprehensif. Mereka dapat mengucapkan kata per kata cocok urutan huruf dari mula hingga akhir serta melafalkan huruf dengan lebih baik.
Atas dalil itulah, para berpengalaman berpendapat bahwa umur 7 tahun adalahsaat yang tepat guna anak belajar membaca sebab otak kirinya telah matang guna dilatih. Lembaga formal laksana sekolah juga dinilai sebagai lokasi yang tepat untuk membuat atmosfer belajar menyimak yang menyenangkan untuk anak.
5 Tanda Anak Siap Belajar Membaca
Sebagian besar peneliti anak setuju bahwa menciptakan anak belajar menyimak terlalu dini menghadirkan lebih tidak sedikit kerugian dibanding guna untuk anak. Oleh sebab itu, penting untuk orang tua menyaksikan 5 firasat kesiapan anak guna mulai diajar belajar membaca.
1. Menunjukkan minat membaca
Tanda mula anak yang siap belajar menyimak ditandai dengan sikapnya yang tertarik dengan kitab atau artikel apapun. Minat belajar menyimak ini dapat tercipta dengan sendirinya, dapat juga ditanamkan oleh orang tua melewati pengenalan pekerjaan membaca.
Ibu dapat menstimulasi anak guna belajar menyimak dengan membelikannya kitab cerita, blok atau magnet berbentuk huruf. Namun, yang terpenting merupakan adanya keterlibatan orang tua untuk menemani anak belajar membaca.
Jika anak belum menunjukkan minat guna belajar membaca, ibu dapat menunda pekerjaan itu. Mengajarkan anak untuk menyimak memang perlu kesabaran dan yang terpenting, tidak boleh membandingkan keterampilan anak ibu dengan teman-teman sebayanya ya sebab setiap anak mempunyai miKursustone-nya sendiri-sendiri.
2. Mengingat dan Menceritakan Kembali
Saat ibu membacakan kisah kepada anak, sesekali berikan pertanyaan mengenai kisah tersebut. Jika anak dapat menjawab, dapat jadi ia telah siap guna belajar membaca.
Di samping itu, anak juga dapat menceritakan kembali cerita yang telah ibu ceritakan berkali-kali. Karena dengan demikian, anak memberi sinyal bahwa ia sudah dapat diajari guna berkonsentrasi dan memperhatikan hal-hal yang diucapkan kepadanya.
3. Peka terhadap Buku dan Media Cetak Lainnya
Peka terhadap buku dapat terlihat saat anak tidak canggung untuk mengindikasikan mana sampul depan dan belakang buku. Anak juga dapat membedakan mana gambar dan huruf di dalam kitab meski belum dapat membacanya.
Sedangkan peka terhadap media cetak lainnya dapat berarti lebih luas lagi. Misalnya saat anak menyaksikan kemasan sereal, ia dapat membedakan gambar, tulisan, warna, huruf kesatu dari merk sereal, maupun sekian banyak tanda baca yang ada.
4. Bermain kata-kata
Sebelum dapat membaca, anak seringkali memperlihatkan keterampilan untuk bermain ucapan-ucapan secara verbal. Misalnya, saat ibu berbicara “sapi” maka anak dapat menjawab “topi” atau sejenisnya.
Atau, ibu juga dapat mencoba melafalkan huruf dan menyaksikan reaksi anak. Misalnya, ibu melafalkan “m-a-k-a-n”, andai anak dapat menebak bahwa rangakaian huruf tersebut membentuk kata “makan”, maka anak ibu barangkali memang telah siap guna belajar membaca.
5. Mengenal beberapa huruf
Ketika anak telah mengenal sejumlah huruf, contohnya huruf-huruf yang merangkai namanya sendiri, mungkin tersebut pertanda anak telah siap guna belajar menyimak sepenuhnya.
9 Cara Membantu Anak Belajar Membaca
Tidak ada teknik belajar menyimak yang lebih efektif untuk anak kecuali dengan ditolong oleh orang tuanya. Bersama ayah atau ibu, anak dapat lebih merasakan proses belajar membaca tersebut sendiri sambil membina bonding.
Akademi Dokter Anak Amerika (AAP) menyinggung bahwa membaca kitab dengan suara lantang adalahsalah satu teknik terbaik untuk orang tua guna mengajarkan anak membaca. Semakin mengasyikkan gaya menyimak yang ditunjukkan oleh orang tua, semakin gampang anak guna belajar membaca. Ketika membaca kitab untuk anak, terdapat baiknya orang tua mengerjakan hal ini:
• Menunjuk kata di kitab sesuai dengan kata yang ibu ucapkan. Dengan demikian, anak menjadi memahami bahwa apa yang ibu ceritakan tertuang di dalam buku
• Gunakan pun suara-suara hewan atau mimik yang lucu supaya anak lebih tertarik untuk memperhatikan cerita
• Tunjuk gambar di dalam kitab cerita dan mohon anak untuk melafalkan nama gambar tersebut. Kemudian, ibu dapat menceritakan bahwa gambar itu masih adalahsatu kesatuan dengan alur cerita
• Sesekali, biarkan anak mengulang kisah sambil ibu mengarahkannya
• Hubungkan cerita di dalam kitab dengan kehidupan anak sehari-hari
• Jika anak bertanya, ibu dapat menghentikan membaca kisah untuk membalas pertanyaannya tersebut. Buku dapat jadi jembatan untuk anak guna mengekspresikan pikirannya
• Ketika anak sudah dapat membaca, usahakan ibu tetap membacakan kitab cerita untuk anak supaya anak dapat memahami cerita yang lebih rumit lagi sehingga dapat terus memungut pelajaran dari cerita tersebut.
Setelah menanamkan ketertarikan terhadap buku, ibu dapat menjalankan 4 tips dari AAP ini untuk menolong anak belajar membaca.
1. Konsisten
Sediakan waktu paling tidak satu kali masing-masing hari guna membacakan kitab kepada anak dan secara tidak langsung mendampinginya belajar menyimak satu atau dua kata baru. Biasanya, anak suka dibacakan kitab cerita sebelum tidur. Kegiatan sebelum istirahat ini sekaligus dapat menjadi pelepas penat untuk orang tua dan anak sesudah seharian beraktivitas.
2. Sediakan buku
Selalu sediakan kitab di lokasi yang gampang terjangkau oleh anak, dapat di kamarnya maupun di ruang bermainnya. Jangan tak sempat untuk mengkhususkan keselamatan dengan meluangkan rak kitab yang aman dan lokasi membaca kitab yang nyaman ya.
3. Minat anak
Bacakan atau sediakan kitab yang unik minat anak menilik setiap anak mempunyai ketertarikan yang berbeda-beda. Jika anak dibacakan kitab yang unik baginya berulang-ulang, anak bakal belajar membaca ucapan-ucapan dari kitab favoritnya tersebut.
4. Jangan dipaksa
Biarkan anak belajar menyimak sesuai dengan keterampilan dan kemauannya. Anak yang satu barangkali mempunyai energi yang lebih tidak sedikit dibanding anak beda yang cepat jenuh dalam belajar membaca. Setiap anak mempunyai batasan berbeda. Mengajari anak membaca perlu waktu dan kesabaran sampai-sampai anak tidak merasa stres dan putus asa dalam proses belajar membaca.
5. Menyenangkan
Ibu dapat mengajarkan konsep huruf atau kata lewat teknik yang menyenangkan, contohnya main tebak-tebakan dan bernyanyi. Ketika anak sudah mengindikasikan raut lelah, terdapat baiknya ibu mengulangi pelatihan tersebut di hari lainnya.
6. Lantang
Ketika anak telah mulai dapat membaca, biasakan ia untuk menyimak dengan lantang, contohnya dengan bergantian membaca kitab dongeng sebelum tidur. Kegiatan ini dapat menaikkan tingkat keyakinan diri anak serta mengajarinya kosa kata baru ataupun membalas pertanyaannya andai ada urusan yang tidak ia mengerti.
7. Langsung bantu
Jika anak terlihat kendala menemukan kata yang tepat, ibu mesti langsung membantu supaya anak tidak kehilangan minat guna terus membaca. Jangan paksa anak untuk menerbitkan kata yang ia maksud andai memang tidak bisa, tapi tidak boleh juga menyetop anak saat ia tengah bercerita.
8. Mengganti kata
Jika anak mengubah kosa kata tertentu saat membaca kitab cerita, contohnya mengubah kata “kucing” dengan “si meong”, simaklah apakah kata tersebut masuk akal. Jika menurut keterangan dari ibu masuk akal, tidak butuh mengoreksinya.
Namun andai melenceng jauh dari maksud kata yang asli, ibu dapat meminta anak guna mengulang menyimak atau melafalkan kata itu sambil menyatakan bahwa kata yang baru saja dibacakan oleh anak mempunyai makna bertolak belakang dibanding aslinya. Usahakan guna tidak berbicara “kamu salah” untuk anak.
9. Beri sanjungan
Untuk mengawal anak tetap motivasi dalam belajar membaca, ibu mesti memberi sanjungan sebagai reward atas keberhasilannya menyimak satu kata baru. Tidak usah sungkan guna menghujaninya dengan pujian sebab ibu atau ayah adalahguru kesatunya dan orang yang ingin diciptakan bangga oleh anak. Banyak pujian juga dapat meningkatkan motivasi anak guna belajar tidak sedikit kosa kata baru.
Mengenal Disleksia
Ketika anak sudah menjangkau usia sekolah, namun masih pun tidak dapat membaca, terdapat baiknya ibu memeriksakan anak ke dokter sebab ia barangkali mengidap disleksia. Disleksia ialah kondisi orang yang mengalami kendala dalam proses belajar membaca.
Tanda-tanda disleksia antara lain:
• Sulit mengulang kata yang sebenarnya telah mereka ketahui
• Kesulitan mengeja
• Kesulitan menulis
• Tidak dapat membaca kata dengan cepat
• Kesulitan menerbitkan ekspresi yang sesuai dengan kata tertulis
• Sulit memahami ucapan-ucapan tertulis
• Kesulitan memisahkan huruf atau kata yang serupa, laksana ‘b’ dengan ‘d’ atau ‘pasar’ dengan ‘pagar’
• Kesulitan belajar bahasa asing.
Penderita disleksia dapat saja tidak mempunyai semua tanda di atas, dapat saja mereka melulu mempunyai satu atau dua tanda. Bagi itu, penting untuk orang tua mengerjakan screening langsung ke dokter.
Meskipun demikian, orang tua perlu memahami bahwa disleksia bukanlah kelainan intelektual maupun kelainan dalam proses tumbuh kembang anak. Disleksia pun bukan tanda bahwa anak tersebut merasakan degradasi intelegensia atau ketidakmampuannya guna belajar. Disleksia hanyalah adanya kelainan gen pada anak yang mengakibatkan ia susah mengekspresikan apa yang dilihatnya secara tertulis.
Disleksia dapat disebabkan oleh keturunan, yakni saat ibu hamil terkena narkoba atau alkohol, atau bayi yang bermunculan prematur serta mempunyai berat bada rendah. Ketika masih bayi, anak yang menderita disleksia mungkin merasakan keterlambatan berkata (speech delay), walau tidak seluruh anak yang speech delay merasakan disleksia.

Leave a Comment